LITERASI UNTUK KESEJAHTERAAN HINGGA MAMPU CIPTAKAN BARANG JASA YANG BERMUTU DALAM KOMPETISI GLOBAL

Jakarta, 19 Februari 2021 pukul 15.30 wib melalui tayangan live Berita Satu News Chanel bertempat di Gedung Perpustakaan Nasional RI menyajikan obrolan live dengan tema Literasi Untuk Kesejahteraan yang menghadirkan Kepala Perpusnas RI Muhammad Syarif Bando, dipandu presenter berita satu Primus Dorimulu.

Membuka percakapan, presenter berita satu Primus Dorimulu menanyakan bagaimana tanggapan Kepala Perpusnas RI itu terkait persaingan Indonesia secara global seiring meningkatannya populasi manusia dan hubungannya dengan kesiapan Indonesia dalam hal SDM dan Literasi. Menanggapi hal tersebut Syarif Bando, menginformasikan sebuah fakta bahwa menurutnya dalam kurun waktu 10 tahun kedepan Asia akan menjadi pusat kehidupan baru manusia dan Indonesia akan menjadi jantung peradaban di Asia.

Menurut Syarif Bando literasi jika dijabarkan memiliki 4 tingkatan, yaitu : kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bahan bacaan, kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat, kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan baru terori baru dan kreativitas baru hingga memiliki kemampuan menganalisis informasi dan menulis buku, hingga kemampuan menciptakan barang atau jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Hal tersebut seiring dengan arah kebijakan yang di ambil Presiden Joko Widodo dalam fokus RPJMN 2020-204 adalah peningkatan Kualitas SDM, untuk membantu memperbaiki pada Neraca Perdagangan agar tidak selalu minus karena produksi dalam negeri lebih kecil dari konsumsi masyarakat sehingga impor lebih besar daripada ekspor.

Syarif Bando mengatakan variable fundamental yang mempengaruhi kemapuan dan peningkatan literasi  adalah variable kegemaran membaca yang dipengaruhi rasio jumlah penduduk dengan buku yang beredar di masyarakat. Dengan data total jumlah penduduk Indonesia 270,20 jiwa (Ditjen Dukcapil Kemdagri RI), total jumlah bahan bacaan 22.318.083 eksplar (Kajian indeks pembangunan literasi masyarakat Perpusnas RI 2020), Rasio Nasional 0.098.

Syarif Bando mengatakan tantangan yang dihadapai saat ini salah satunya adalah generasi milenial, bagaimana memberikan pemahaman dan pandangan bahwa mereka adalah generasi penerus yang membutuhkan ilmu pengetahuan dan informasi untuk bisa memproduksi barang jasa yang bermutu yang dapat berkompetisi global dimasa yang akan datang. Ditambahkannya, Generasi milenial tidak boleh generasi internetan yang berselancar di delombang dengan penuh ketidak pastian dengan pengetahuan yang sangat dangkal, bahwa generasi milenial harus membaca. Semua negara berkembang berproses dibangunan dengan generasi yang memiliki tingkat literasi yang mumpuni.

Syarif Bando berharap kepada tenaga-tenaga perpustakaan mampu memastikan seluruh generasi Indonesia menerapkan Library minded – digital minded, bahwa mereka harus bisa meyakinkan batas antar wilayah sudah tidak relevan lagi. Sekarang eranya bagaimana kita mengantarkan masyarakat Indonesia untuk bisa menjadi masyarakat dunia dengan pengetahuan dan keterampilan yang ada dan semuanya ada di perpustakaan, tutupnya.

Mengakhiri obrolan tersebut Primus Dorimulu menyimpulkan, generasi milenial harus memiliki budaya membaca minimal 2 hingga 3 buku dalam setahun. Dengan kebiasaan membaca, suatu waktu seseorang akan dapat berinovasi dan itu akan merangsang untuk berproduksi. Indonesia akan menjadi bangsa hebat kalau kita tidak hanya menjadi bangsa konsumen tetapi juga bisa menjadi bangsa yang bisa memproduksi.

(andripranata, 22/2/21)

About admin

Check Also

Rencanakan Workshop NPP dan Diklat Calon Kepala Perpustakaan, Bidang P3KM lakukan Rapat Konsultasi Staf dengan Kepala DPKD Kaltim

Samarinda – Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca (P3KM) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *