Kepala Perpusnas RI Narasumber Rakorda Perpustkaan dan Kearsipan Se-Kaltim

Balikpapan – Sebuah institusi penyedia informasi karya cetak maupun non cetak adalah perpustakaan. Perpustakaan dikelola oleh pustakawan atau tenaga perpustakaan dimana pada abad ke-18 tugasnya sebatas menata buku, di abad ke-19 tugasnya menderetkan buku berdasarkan klasifikasi buku. Namun pada abad ke-21 tugas seorang pustakawan adalah transfer knowledge ilmu pengetahuan yang dimiliki dan menyampaikan kepada seluruh masyarakat.

Pada Pada kesempatan tersebut Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando yang hadir sebagai Narasumber mengajak seluruh pemangku kepentingan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif maupun masyarakat untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Syarif Bando berpendapat bahwa literasi sudah berkembang pada masa Indoneaia merdeka, dimana pada saat kondisi melek huruf hanya dua persen sehingga Proklamator Bung Karno turun langsung ke masyarakat untuk mengenalkan literasi. Kondisi saat ini dinilai sudah jauh berubah dimana tingkat melek huruf penduduk Indonesia sudah mencapai 96 persen dan anggaran pendidikan sudah mendapat 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Tahun ini Perpustakaan Nasional bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun literasi di Indonesia melalui perpustakaan,” ujar Syarif pada acara Rapat koordinasi daerah (Rakorda) Perpustakaan dan Kearsipan se Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2021, pada Selasa (16/3/2021).

Syarif Bando memberikan pemaparan bahwa pembangunan sumber daya manusia terkait erat dengan literasi. Kepala Perpustakaan Nasional mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memaknai literasi secara luas. Literasi di era Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menurut versi Perpustakaan Nasional yang dijabarkan dari RPJMN arahan Presiden di sidang kabinet. Yang pertama, kemampuan aksesibilitas terhadap sumber-sumber bahan bacaan terpercaya, terlengkap, terkini. Yang kedua, literasi adalah kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat. Yang ketiga, literasi adalah kemampuan mengemukakan ide atau gagasan baru, inovasi baru, Yang keempat, literasi adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global.

Pihaknya telah mengidentifikasi kondisi literasi di Indonesia menjadi hulu dan hilir. Fakta mengungkapkan rendahnya budaya baca masyarakat terdapat pada kondisi hilir. Karenanya, harus ada kerja sama untuk mengatasi kondisi di hulu. Di antaranya, peran negara seperti kebijakan yang dihasilkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu, peran akademisi, perguruan tinggi, pengarang, penerbit, dan penerjemah, juga dibutuhkan untuk mengatasi kondisi di hulu. Peran seluruh pihak dibutuhkan untuk memastikan buku tersedia dan bisa sampai ke seluruh pelosok Indonesia.

Kepala Perpusnas RI turut mendorong dan menghimbau seluruh perpustakaan dapat melengkapi penyediaan koleksi berupa buku-buku ilmu terapan agar dimanfaatkan masyarakat untuk menambah keterampilan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Seluruh stakeholder di daerah harus menghasilkan buku-buku yang dibutuhkan masyarakat daerahnya. Targetnya, setiap orang baca tiga buku dengan demikian dibutuhkan kurang lebih 810 juta buku di Indonesia.”

(andri, 17/3/21)

About admin

Check Also

Rencanakan Workshop NPP dan Diklat Calon Kepala Perpustakaan, Bidang P3KM lakukan Rapat Konsultasi Staf dengan Kepala DPKD Kaltim

Samarinda – Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca (P3KM) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *